Kondisi Antrian Pertamax di SPBU Sepi
(Foto: Hasna Zahira)
Cobeez.id – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax kembali menjadi perhatian masyarakat setelah mengalami kenaikan hingga Rp 16.250 per liternya. Penyesuaian ini dilakukan mengikuti perkembangan harga minyak dunia dan kondisi ekonomi global. Banyak respons bermunculan dari masyarakat pengguna akibat melonjaknya harga secara tiba-tiba.
Seperti yang diketahui, harga pertamax semula sebesar Rp 12.300 per liter kemudian mengalami kenaikan per tanggal 10 Juni 2026 menjadi Rp 16.300. Angka tersebut tentu dianggap tinggi karena mengalami kenaikan drastis dalam waktu yang singkat.
Seperti yang dikutip dari Kompas.com, Juru Bicara Kementrian ESDM, Dwi Anggia mengatakan bahwa konflik geopolitik Timur Tengah membuat harga minyak mentah (crude) melonjak dan akhirnya turut mempengaruhi harga BBM dalam negeri. Pertamax sendiri merupakan jenis BBM non-subsidi, sehingga penetapan harganya dapat mengikuti mekanisme pasar global. Kondisi ini tentu berbeda dengan BBM subsidi yang memang ditanggung pemerintah.
Sebagian masyarakat mengaku harus menyesuaikan pengeluaran sehari-hari akibat kenaikan harga Pertamax. Salah satunya AM (21), pengguna kendaraan bermotor yang merasakan langsung dampak kenaikan harga tersebut. Menurutnya, biaya transportasi kini menjadi lebih besar dibandingkan sebelumnya, terlebih ia merupakan seorang perantau.
“Sekarang harus pinter kelola uang, soalnya buat transportasi aja udah mahal, apalagi buat saya anak kos yang setiap harinya mengeluarkan uang. Pengeluaran seminggu jadi lebih boros di bensin,” ujarnya saat ditanya.
Melalui pertimbangan yang matang, AM memutuskan untuk beralih menggunakan pertalite terlebih dahulu demi menghemat pengeluaran.
“Sekarang saya pakai pertalite dulu biar hemat, siapa tau besok pertamax turun,” tambahnya.
Di sisi lain, tidak semua pengguna merasa keberatan dengan kenaikan harga yang terjadi. Mustofa (37), mengaku dirinya telah memahami bahwa BBM jenis pertamax merupakan non-subsidi sehingga harganya bisa berubah seiring dengan kondisi geopolitik dunia, sehingga kenaikan harga tersebut dianggap wajar dan biasa.
“Saya sih tidak terlalu mempermasalahkan kenaikan harga ya, karena memang pertamax kan non-subsidi. Jadi ya harganya ikut pasar global. Saya tetap pakai biar mesin gak rusak,” ujarnya saat ditanya.
Meski harus mengeluarkan biaya lebih besar, Mustofa (37) memilih tetap menggunakan pertamax. Menurutnya, kualitas bahan bakar tersebut dinilai lebih baik untuk menjaga performa dan kesehatan mesin kendaraannya dalam jangka panjang.
Kenaikan harga pertamax menunjukkan bagaimana kebijakan penyesuaian harga BBM dapat mempengaruhi pola konsumsi masyarakat. Sebagian pengguna memilih mencari alternatif yang lebih ekonomis, sementara sebagian lainnya tetap bertahan dengan mempertimbangkan kualitas dan manfaat yang diperoleh dari penggunaan bahan bakar tersebut.
Penulis : Hasna Zahira
Editor : Hasna Zahira

