Suasana Stand UMKM Risol Prasmanan di Kampung Ramadan Rindam (8/3/2026)
(Foto : Wildan Alqoni)
Magelang, Cobeez.id – Fenomena makanan viral turut meramaikan perputaran ekonomi di Kampung Ramadhan Rindam, Kota Magelang. Pasar kuliner yang rutin diadakan setiap bulan Ramadan ini menjadi pusat aktivitas ekonomi baru bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjajakan menu berbuka puasa.
Sejak awal Ramadan kawasan tersebut terus dipadati pengunjung yang berburu takjil untuk berbuka puasa. Salah satu fenomena bisnis yang terlihat yaitu munculnya banyak makanan viral yang menarik pembeli. Tren makanan tersebut mendorong banyak pelaku UMKM menjajakan dagangannya untuk menarik konsumen.
Salah satu pelaku UMKM yang merasakan dampak ekonomi dari tren makanan viral adalah Maya, penjual risol prasmanan. Ia telah menjual risol tersebut selama tiga tahun, jauh sebelum jajanan tersebut popular seperti sekarang.
Maya mengaku dirinya merupakan penjual risol prasmanan pertama di Rindam sebelum banyak pesaing bisnis berdatangan. Seiring meningkatnya popularitas jajanan risol, persaingan semakin ketat.
Meski demikian, Maya justru merasakan peningkatan pendapatan selama bulan Ramadan. Ia menyebut penghasilannya bisa meningkat hingga tiga sampai empat kali lipat, meskipun waktu berjualannya terhitung sebentar.
“Kalau di Kampung Ramadan ini bisa naik tiga sampai empat kali lipat, walaupun jualannya sebentar tapi alhamdulillah selalu habis cepat,” ujar Maya saat diwawancarai (8/3/26).
Menurutnya, tren makanan viral seperti risol dengan berbagai topping semakin menarik minat pembeli. Bahkan, sejumlah pelanggan kerap meminta tambahan varian rasa viral. Meskipun permintaan meningkat, tidak ada kenaikan bahan baku yang signifikan sehingga harga jual risol masih stabil. Kestabilan harga dilakukan untuk menjaga minat beli pelanggan.
“Sejauh ini tidak ada kenaikan harga bahan baku, jadi harga risolnya juga tidak naik biar pelanggan tidak kecewa,” ujarnya (8/3/26)
Dari sisi pengunjung, keberadaan Kampung Ramadan Rindam dinilai memberikan manfaat ekonomi bagi pelaku UMKM, tidak hanya menjadi tempat berburu takjil, tetapi juga membantu pelaku UMKM memasarkan produknya. Salah satu pengunjung, Azza mengatakan harga makanan yang dijual masih tergolong normal sehingga masyarakat tidak perlu mengeluarkan banyak biaya untuk berburu takjil.
“Menurut kita ini sangat membantu karena merupakan salah satu cara membangkitkan UMKM. Jadi karena disini kebetulan lagi Ramadan jadi otomatis banyak orang yang mencari takjil, pastinya bakal rame sih. Harga makanannya juga tergantung varian apa, tapi banyak yang worth it,” ujar Azza (8/3/2026).
Dengan demikian, Kampung Ramadan menunjukkan bagaimana pusat kuliner musiman ini dapat menjadi penggerak ekonomi baru yang mampu meningkatkan perekonomian lokal terutama pada pemilik UMKM.
Penulis : Hasna Zahira
Editor : Hasna Zahira
