Ramai Pembeli, Tipis Keuntungan : Realita Pedagang Takjil di Kampung Ramadhan Rindam.

Magelang, cobeez.id – Sore hari di bulan Ramadan, kawasan Kampung Ramadan Rindam dipadati pengunjung yang berburu menu takjil untuk berbuka puasa. Ramainya pembeli membuat lokasi ini menjadi salah satu pusat aktivitas ekonomi musiman selama bulan Ramadan. Namun, dibalik tingginya minat masyarakat, para pedagang mengaku keuntungan yang diperoleh tidak selalu meningkat karena harga bahan baku yang ikut naik.

Peningkatan jumlah pengunjung selama Ramadan memang mendorong perputaran ekonomi, terutama bagi pedagang kuliner dan pelaku usaha kecil. Berbagai jenis lapak dagangan berjajar di sepanjang area Rindam, menawarkan berbagai menu takjil yang cocok disajikan sebagai menu berbuka puasa.

Meski demikian, meningkatnya permintaan selama Ramadan juga berdampak pada kenaikan harga sejumlah bahan baku. Beberapa bahan baku seperti ayam, buah-buahan, hingga bahan pembuatan kue mengalami kenaikan harga di tingkat distributor hingga pasar.

Dianti (55), pedagang ayam di Pasar Rejowinangun, mengatakan harga ayam potong mulai meningkat sejak memasuki Ramadan. Menurutnya, pada hari biasa harga ayam berada di kisaran Rp30 ribu hingga Rp35 ribu per kilogram. Namun saat Ramadan, harga dapat mencapai Rp40 ribu hingga Rp45 ribu per kilogram. Meski penjualan cenderung meningkat, keuntungan yang diperoleh tidak selalu lebih besar karena harga dari distributor juga ikut naik.

Kenaikan harga juga terjadi pada bahan pembuatan kue seperti tepung, gula halus, dan margarin. “Kenaikan harga juga terjadi pada bahan pembuatan kue seperti tepung, gula halus, dan margarin”, ujar Tri (37) karyawan toko bahan kue di Gandusari.

Dampak kenaikan bahan baku ini  juga dirasakan oleh para pelaku usaha kuliner di kawasan Kampung Ramadan Rindam. “Harga jual akhirnya naik seribu rupiah untuk semua menu,”  ujar Dinda, penjual Radja Es Teler Sultan. Ia mengaku harus menyesuaikan harga jual menu yang ditawarkan karena beberapa bahan mengalami kenaikan harga.

Disisi lain, tidak semua pedagang memilih menaikkan harga. Eka, penjual mochi viral, memilih mempertahankan harga jual sebelumnya meskipun biaya bahan baku meningkat. Ia mengaku mengambil keuntungan yang lebih tipis agar kualitas produk tetap terjaga dan pelanggan tetap kembali membeli.

Bulan Ramadan membawa peningkatan aktivitas ekonomi, terutama pada sektor kuliner dan bahan pangan. Namun dibalik tingginya antusiasme permintaan, fluktuasi harga bahan baku menjadi tantangan bagi pedagang dan pelaku usaha dalam menjaga keuntungan sekaligus mempertahankan pelanggan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *