C/B Hasna Zahira & Januar Arifin, Isi menu makanan program MBG (25/5/2026)
Foto (smkn3payakumbuh.sch.id)
Cobeez.id – Pemerintah memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) tahun 2026 sebesar Rp 67 triliun. Pagu anggaran yang sebelumnya direncanakan mencapai Rp335 triliun kini menjadi Rp268 triliun. Meski mengalami penyesuaian, pemerintah memastikan pelaksanaan program tetap berjalan dan tidak mengurangi jumlah penerima manfaat maupun kualitas makanan yang diberikan.
Pemangkasan anggaran dilakukan sebagai bagian dari efisiensi belanja negara di tengah upaya menjaga stabilitas fiskal dan efektivitas pelaksanaan program prioritas nasional.
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyebut penyesuaian tersebut diarahkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran program MBG oleh Badan Gizi Nasional. Pemerintah menilai ruang penghematan masih dapat dilakukan tanpa mengganggu target utama program.
Kebijakan tersebut mendapat perhatian dari DPR RI. Sejumlah anggota dewan meminta pemerintah memastikan efisiensi anggaran tidak menurunkan kualitas gizi makanan yang diterima anak-anak sekolah dan kelompok sasaran lainnya.
Dikutip dari MerahPutih.com – anggota Komisi IX DPR RI yang menegaskan bahwasannya “Kualitas makanan yang akan didistribusikan tetap harus memenuhi kebutuhan nutrisi dan gizi bagi seluruh penerima manfaat.”
Program MBG menjadi salah satu agenda strategis pemerintah karena tidak hanya menyasar peningkatan gizi anak, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi daerah. Pengadaan bahan pangan untuk program ini melibatkan petani, peternak, pelaku UMKM pangan, hingga distribusi logistik di berbagai wilayah.
Hingga awal tahun ini, realisasi anggaran MBG disebut telah menyerap puluhan triliun rupiah dan menjangkau jutaan penerima manfaat di seluruh Indonesia. Pemerintah menilai keberlanjutan program tetap menjadi prioritas, terutama dalam mendukung kualitas sumber daya manusia jangka panjang.
Dari sisi ekonomi, pengurangan anggaran ini dinilai menjadi ujian bagi efektivitas tata kelola program. Pelaku pasar akan mencermati apakah efisiensi belanja benar-benar mampu menjaga kualitas layanan tanpa menimbulkan gangguan pada rantai pasok pangan maupun serapan ekonomi di tingkat daerah.
Analis menilai keberhasilan MBG ke depan bergantung pada kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan kualitas implementasi. Jika berjalan efektif, program tersebut tetap berpotensi menjadi pendorong konsumsi domestik sekaligus investasi sosial jangka panjang bagi Indonesia.
Penulis : Januar Arifin
Editor : Hasna Zahira
