Harga RAM April 2026 Mulai “Melunak”, Kapan Waktu Terbaik Memborong RAM? Ini Bocoran Analis!

Cobeez.id – Setelah terjebak dalam tren harga yang mencekik selama awal tahun, angin segar mulai berhembus ke pasar memori komputer. Bagi Anda yang mengincar modul RAM berkualitas untuk memenuhi standar kebutuhan gaming dan produktivitas, ini bocoran analisis untuk melihat kapan waktu yang tepat memborongnya di tahun 2026.

Nasib RAM di Indonesia

Setelah cukup lama mengalami fenomena dominasi pusat data kecerdasan buatan (AI) yang membuat kelangkaan stok RAM memori di akhir 2025 lalu. Saat ini harga RAM mulai menunjukkan penurunan, memori RAM generasi baru seperti DDR5 (Double Data Rate 5) misalnya. Modul RAM ini menawarkan performa, keunggulan dan fitur mumpuni yang cenderung banyak digandrungi para perakit PC untuk mendukung kelancaran dalam aktivitas berat di PC.

Terpantau saat ini harga rata-rata DDR5 16GB di pasar Indonesia masih tertahan di angka Rp1,6 juta hingga Rp1,9 juta. Angka ini terbukti menurun dibanding puncak krisis pada Januari 2026 yang sempat menembus Rp2,2 juta, namun belum kembali ke level “sehat” di bawah Rp1,2 juta.Menurut laporan terbaru dari TrendForce, sebuah lembaga riset pasar semikonduktor global, terdapat proyeksi penurunan harga kontrak DRAM sebesar 5% hingga 10% pada kuartal kedua (April-Juni) 2026. Penurunan ini dipicu oleh mulai stabilnya pasokan wafer dari pabrik besar seperti Samsung dan SK Hynix.

Sumber lain juga turut mengkonfirmasi adanya penurunan harga, seperti pada laporan Detikinet yang menyebutkan bahwa turunnya harga sebagai respon dari TurboQuant, algoritma baru Google yang diklaim dapat menurunkan biaya penggunaan memori hingga 6 kali lipat. Selain itu, masalah pada penggalangan dana OpenAI juga turut menjadi salah satu faktor penyebab penurunan harga.

Pernyataan Pakar: AI Masih Menjadi “Penentu”

Meski ada tren penurunan, kecepatan harga untuk kembali normal sangat bergantung pada permintaan sektor Kecerdasan Buatan (AI). Shenghao Bai, Analis Senior dari Counterpoint Research, dalam keterangannya yang dikutip oleh Bloomberg, menjelaskan mengapa penurunan harga tidak terjadi secara drastis:

“Produsen memori saat ini sedang melakukan ‘tarian’ produksi. Mereka harus membagi kapasitas antara RAM standar untuk konsumen dan memori High Bandwidth Memory (HBM) untuk kebutuhan server AI. Selama permintaan AI masih rakus, penurunan harga RAM PC akan berlangsung lambat dan bertahap,” ungkap Shenghao Bai.

Berkaitan dengan hal tersebut, Detikinet dalam laporannya menekankan bahwa meskipun harga mulai melandai, rantai pasokan global belum sepenuhnya pulih dari gangguan logistik yang terjadi di awal tahun. Hal ini memperkuat alasan mengapa VIVA Gadget, dalam ulasan terbarunya menyarankan konsumen untuk tidak langsung tergiur dengan label “diskon” atau “turun harga”.

“Harga RAM mulai turun, tapi disarankan jangan beli dulu,” tulis VIVA.

Alasannya yakni terdapat indikasi bahwa stok akan semakin melimpah dalam beberapa bulan ke depan seiring dengan stabilnya jalur produksi massal DDR5. Jika tren ini berlanjut, harga diprediksi akan jauh lebih kompetitif pada pertengahan hingga akhir tahun 2026 mendatang.

Tabel Proyeksi Harga DDR5 16GB (Estimasi 2026)

PeriodeEstimasi Harga (IDR)Status Rekomendasi
Q1 2026 (Puncak)Rp2.200.000++Hindari
April 2026 (Sekarang)Rp1.900.000Pantau
Juni 2026 (Prediksi)Rp1.450.000Mulai Pertimbangkan

Realita Lokal: “Masih Jauh dari Normal”

Di tingkat retail lokal, Prabumulih Pos melaporkan bahwa pedagang di daerah masih menghabiskan stok lama yang dibeli dengan harga tinggi. Inilah yang menyebabkan harga di toko fisik seringkali terasa lebih mahal dibandingkan harga di marketplace internasional.

“Penurunan harga di tingkat distributor memerlukan waktu sekitar 4 hingga 8 minggu untuk sampai ke tangan konsumen akhir di daerah. Jadi, apa yang kita lihat turun di berita global hari ini, baru akan terasa di dompet kita bulan depan,” tulis laporan Prabumulih Pos.

Berdasarkan data TrendForce dan pantauan media nasional, waktu paling logis untuk melakukan upgrade RAM adalah pada periode pertengahan tahun 2026 mendatang. Pada saat itu, penyesuaian harga kontrak global diharapkan sudah mulai diterapkan secara merata oleh para vendor di Indonesia.

Tinggalkan Balasan ke Mbang Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Comment