Aldi’s Burger: Strategi Viral dan Tantangan Keberlanjutan

Cobeez.id – Kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, mendadak ramai sejak awal Maret 2026. Sebuah ruko sederhana yang berdiri di Jalan Cempaka Putih Timur Nomor 18, setiap hari diserbu antrean mengular dari pembeli hingga 10—20 meter. Bukan bangunan restoran mewah maupun berdirinya gerai franchise ternama, melainkan warung Aldi’s Burger milik Aldi Taher, artis multitalenta yang selama ini lebih dikenal karena tingkah absurdnya di layar kaca. Namun di balik euforia tersebut, sebuah pertanyaan mendasar bergema di kalangan pelaku bisnis dan pengamat kuliner, yaitu apakah bisnis yang lahir dari viralitas ini bisa benar-benar bertahan dalam jangka waktu lama? 

Fenomena Aldi’s Burger menunjukkan bagaimana kekuatan media sosial dapat mengangkat sebuah brand dalam waktu singkat. Popularitas ini berawal dari strategi sederhana, tetapi tidak biasa, yaitu banyak komentar yang rutin ditinggalkan Aldi Taher pada unggahan viral orang lain di platform Threads dan X. Komentar ini berisi kalimat panjang yang absurd, tetapi tak terlupakan, “Aldi’s Burger Cempaka Putih rotinya lembut dagingnya juicy luicy feast hindia mahalini rizky febian bisa pesan online.” Awalnya komentar ini dianggap spam, tetapi berkat konsistensi tersebut justru menciptakan daya ingat kolektif di kalangan warganet. 

Nama-nama musisi besar seperti Juicy Luicy, Mahalini, Rizky Febian, bahkan Liam Gallagher dari Oasis turut ia selipkan dalam narasi promosi tersebut. Efeknya meluas ketika figur-figur yang disebut mulai merespons, diikuti food vlogger hingga brand besar yang ikut berinteraksi di kolom komentar. Dilaporkan CNA Indonesia, pendekatan ini menciptakan efek attention hijacking yang memaksa brand-brand besar untuk bereaksi dan justru memperluas jangkauan Aldi secara organik. 

Kesuksesan ini tidak hanya terlihat dari sisi eksposur, tetapi juga performa penjualan. Dikutip dari laman Detik Food, penjualan Aldi’s Burger dilaporkan menembus 600 burger per hari hanya dari satu gerai. Namun, sang pemilik justru mengatakan, “Marketing milik Allah. Saya nggak punya marketing apa-apa,” ujar Aldi kepada detikHot, sebuah pernyataan merendah yang justru memperkuat citra brand-nya. Dikutip dari catatan Nibble.id, keberhasilan ini juga didukung oleh konsistensi promosi tanpa biaya besar, humor yang mudah disebarluaskan, harga yang inklusif mulai Rp24.000, dan strategi unik merangkul pesaing secara terbuka, mulai dari Blenger Burger hingga Burger King disebut sebagai “sepupu” Aldi’s Burger.

Namun, viralitas bisnis ini pada dasarnya bersifat sementara. Tren di media sosial berubah dengan sangat cepat dan perhatian publik mudah bergeser ke hal baru. Inilah alasan mengapa banyak pihak meragukan keberlanjutan bisnis seperti Aldi’s Burger. Indonesia mempunyai catatan soal bisnis kuliner artis yang lahir dari hype dan mati bersamanya. Sejumlah bisnis berbasis popularitas figur publik pernah mengalami kondisi yang ramai di awal, tetapi meredup dalam waktu singkat. Fenomena kue artis pada 2017, seperti Gigieat Cake, Kuenya Ayu, hingga Surabaya Snow Cake, menjadi contoh bagaimana hype tidak selalu berujung pada keberlangsungan jangka panjang. Hal serupa juga terjadi pada proyek Rans Nusantara Hebat milik Raffi Ahmad dan Kaesang Pangarep, yang tutup kurang dari setahun setelah beroperasi.  Akar permasalahanya yaitu kebanyakan artis memegang peran sebagai marketing. Saat kepopuleran si artis menurun, sales pun ikut turun. Selain itu, tanpa fokus penuh pada operasional, bisnis hanya akan kuat di masa hype, lalu pelan-pelan mati. 

Kekhawatiran yang sama relevan untuk Aldi’s Burger. Brand ini hampir sepenuhnya bergantung pada persona Aldi Taher. Jika perhatian publik terhadapnya bergeser, fondasinya ikut goyah. Pola konsumsi masyarakat yang mengikuti tren, bukan loyalitas, juga menjadi tantangan. Konsumen datang karena penasaran, bukan karena keterikatan jangka panjang. Selain itu, produk seperti burger relatif juga mudah ditiru, sehingga kompetitor bisa dengan cepat menghadirkan alternatif serupa dengan inovasi kecil. Gerai tunggal Aldi’s Burger di kawasan perumahan juga sudah memicu gesekan sosial akibat keramaian yang mengganggu warga. Aldi Taher sendiri mengakui bahwa ia belum pernah mengelola ekspansi cabang sebelumnya. 

“Kenapa belum buka cabang? Karena pertama, ya kita mempelajari sistem buka cabang tuh kayak gimana, karena aku belum pernah gitu.” Dikutip dari Insertlive.

Meski demikian, bukan berarti Aldi’s Burger tidak memiliki peluang untuk bertahan dengan jangka waktu yang lama. Viralitas bisa menjadi pintu masuk yang kuat, tetapi keberlanjutan ditentukan oleh bagaimana bisnis tersebut berkembang setelah hype mereda. Agar dapat bertahan, Aldi’s Burger perlu menjaga konsistensi kualitas produk, karena pada akhirnya rasa tetap menjadi faktor utama dalam bisnis kuliner. Dikutip dari Detik.com, Aldi Taher selaku pemilik sudah mulai mempelajari langkah ekspansi secara bertahap, termasuk melakukan survei ke sejumlah ruko di kawasan Jakarta Selatan. 

“Mudah-mudahan bisa ekspansi. Namanya juga usaha, pasti ingin terus berkembang. Doakan saja semoga ke depan bisa buka cabang lagi atau menghadirkan kemitraan di tempat lain,” ujarnya.

Sejalan dengan rencana tersebut, Aldi juga tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia memilih untuk berdiskusi dan belajar dari pelaku kuliner yang lebih berpengalaman untuk lebih memahami sistem pembukaan cabang yang tepat sebelum benar-benar berekspansi.

“Minta doa saja karena baru tiga bulan kan,” ujar Aldi Taher yang dikutip dari media Insertlive. 

Fenomena ini menunjukkan bahwa dalam era digital, marketing tidak selalu hadir dalam bentuk yang eksplisit. Narasi yang jujur, spontan, dan tidak dirancang kaku sering kali memiliki daya tarik yang lebih besar. Namun, kembali pada persoalan keberlanjutan, pendekatan seperti ini tetap perlu diimbangi dengan strategi yang lebih terstruktur agar tidak hanya kuat di awal, tetapi juga  membangun kepercayaan yang lebih tahan lama di mata konsumen dan mampu bertahan dalam jangka panjang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 Comment