Menakar Dampak Kebijakan dan Pernyataan Pemimpin pada Stabilitas Ekonomi Negara: Saat Ucapan Presiden Dapat Mengguncang Kestabilan Suatu Negara

Cobeez.id – Stabilitas ekonomi makro dan pergerakan pasar finansial tidak hanya bergantung pada angka inflasi atau neraca perdagangan, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh sentimen pasar. Kepercayaan investor sering kali dibentuk oleh retorika, komunikasi publik, dan pernyataan dari kepala negara. Baru-baru ini, dinamika pasar modal Indonesia menjadi sorotan setelah serangkaian pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang ditujukan untuk menenangkan rakyat justru direspons beragam oleh pasar finansial, memicu perdebatan publik sekaligus menempatkan komunikasi kebijakan di bawah sorotan investor dan ekonom. 

Minggu, 24 Mei 2026. Redaksi Ekonomi dan Pasar Modal

IHSG (20 Mei 2026)Nilai Tukar Rupiah (Terendah)IHSG Mingguan per 15 Mei
-1,49%Rp 17.660-3,53%

Berdasarkan laporan dari CNBC Indonesia, Presiden Prabowo Subianto sempat memberikan pernyataan di hadapan warga Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu 16 Mei 2026. Dalam acara peresmian Museum Ibu Marsinah sekaligus peluncuran 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, Prabowo merespons kekhawatiran publik soal pelemahan rupiah yang kala itu telah menyentuh kisaran Rp17.600 per dolar AS.

“Saya yakin sekarang ada yang selalu, sebentar-sebentar, Indonesia akan collapse, akan chaos… Orang rakyat di desa enggak pake dolar kok.” 

Pernyataan tersebut langsung mendapat sorotan dari pelaku pasar. Salah satu ekonom dari Center of Reform on Economic (CORE), Yusuf Randi Manilet 

“Dalam ekonomi modern, dampak kurs bekerja lewat rantai pasok, bukan lewat apakah seseorang memegang dolar atau tidak,” ujar Ekonom Center of Reform on Economics (Core ) Yusuf Rendy Manilet , dikutip dari KONTAN.co.id, Selasa (19/5/2026).

Ekonom menilai bahwa dampak kurs dolar tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha besar di perkotaan, tetapi juga menjangkau masyarakat desa melalui kenaikan biaya produksi dan harga kebutuhan pokok. Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang cukup rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.

Memang transaksi masyarakat desa dilakukan menggunakan rupiah, namun lemahnya mata uang nasional tetap memberikan pengaruh terhadap aktivitas ekonomi di pedesaan, terutama pada sektor pertanian. Banyak kebutuhan pertanian seperti pupuk, pestisida, benih, hingga alat mesin pertanian masih memiliki keterkaitan dengan bahan baku impor. Ketika rupiah melemah, harga barang-barang tersebut ikut meningkat sehingga biaya produksi petani menjadi lebih tinggi.

Kondisi ini dinilai memberatkan petani kecil karena kenaikan modal usaha tidak selalu diikuti dengan kenaikan harga hasil panen. Akibatnya, keuntungan petani semakin menipis. Selain dari sektor produksi, lemahnya rupiah juga berdampak pada daya beli masyarakat pedesaan. Kenaikan harga bahan bakar, distribusi logistik, hingga kebutuhan pokok membuat pengeluaran masyarakat ikut meningkat.

Tak hanya itu, pada Rabu 20 Mei 2026, Prabowo hadir langsung dalam Rapat Paripurna DPR ke-19 untuk menyampaikan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Dalam pidato tersebut, ia menyampaikan refleksi tentang aspirasi rakyat Indonesia. 

“Rakyat kita tidak bermimpi untuk mengalami kehidupan yang kaya raya, tapi mereka bermimpi untuk bisa hidup dengan layak, dengan baik. Mereka bermimpi bisa makan dengan baik tiap hari, bisa memberi susu untuk anak-anaknya, bisa mencari obat bilamana anak mereka sakit.”  ujar Presiden Prabowo dilansir dari Kompas.com.

Pernyataan ini, yang dimaksud oleh Prabowo sebagai landasan filosofis kebijakan pro-rakyat berbasis Pasal 33 UUD 1945, yang justru ditafsirkan sebagian kalangan sebagai sinyal lemahnya ambisi ekonomi pemerintah di tengah tekanan pasar yang sedang berlangsung. IHSG langsung tertekan, sempat melemah 1,49 persen ke posisi 6.275 di sesi siang hari itu. 

Menanggapi pernyataan tersebut, analis Elandry dari Investortrust.id menilai pergerakan IHSG pada 20 Mei bukan semata disebabkan oleh pidato Presiden. Kombinasi sentimen besar mulai dari kebijakan ekspor SDA, keputusan BI Rate, hingga rebalancing indeks global MSCI dan FTSE Russell turut menekan bursa secara bersamaan.

“Menurut saya, pergerakan IHSG hari ini cukup dipengaruhi kombinasi beberapa sentimen besar, mulai dari pidato Presiden, keputusan suku bunga Bank Indonesia, hingga isu pembentukan badan khusus ekspor komoditas strategis.” 

Melalui kejadian ini,dapat kita ketahui bahwa di era informasi yang bergerak cepat, setiap pernyataan pejabat tinggi terlepas dari niat aslinya akan dibaca, diinterpretasikan berbeda, dan dapat memberikan dampak pada pasar modal dalam hitungan menit. Analis dari Indo Maritim mencatat bahwa strategi besar Prabowo untuk membangun ketahanan berbasis ekonomi domestik sesungguhnya memiliki arah yang jelas, namun penyampaiannya di tengah rupiah yang melemah ke level Rp17.600 menjadi konteks yang sangat sensitif.

Bank Indonesia sendiri dikabarkan telah menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poin dan menggelontorkan intervensi pasar yang menyebabkan cadangan devisa turun sekitar 10 miliar dolar AS, semata untuk menahan tekanan terhadap rupiah menunjukkan betapa nyatanya dampak ekonomi yang sedang dihadapi.  

Karena itu, pembahasan mengenai nilai tukar rupiah tidak hanya relevan bagi pelaku ekonomi di kota atau pasar internasional saja. Bagi investor, pelaku usaha, dan warga desa sekalipun, harga beras, minyak goreng, dan sembako yang terus bergerak mengikuti kurs, menjadi bukti paling konkret bahwa dolar meski tak dipegang langsung tetap hadir dalam keseharian seluruh lapisan rakyat Indonesia. Stabilitas rupiah juga penting bagi masyarakat desa karena berpengaruh terhadap biaya produksi pertanian, harga kebutuhan pokok, dan kesejahteraan petani. Meskipun masyarakat desa tidak menggunakan dolar dalam transaksi sehari-hari, kondisi rupiah tetap memiliki kaitan erat dengan kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *